top of page
  • Gambar penulisCalvin Tajujung

Cerita Dunia vs Cerita Benar


ilustrasi Cerita Dunia vs Cerita Benar - baecirita

Dunia punya cerita


Dunia tempat kita berpijak hari ini mempertontonkan cerita tentang ancaman suatu virus yang tidak kasatmata nan mematikan, membawa tangis duka mendalam bagi begitu banyak orang. Belum berakhir pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ini, datang cerita dari Afganistan dimana setelah ditinggalkan pasukan militer AS dan sekutunya, kelompok Taliban merebut kendali pemerintahan dan kekuasaan di negara ini. Berdalih ingin “menghapus” segala pengaruh Barat dan mengembalikan nilai-nilai agama (Islam), mereka menebar teror dengan merampok, memperkosa bahkan membunuh secara keji orang-orang yang tidak sesuai dengan paham mereka.


Di Amerika Serikat, di saat saya menulis artikel ini, Emergency Alerts berdering keras di setiap telepon genggam berisi pesan “National Weather Service: A FLASH FLOOD & TORNADO WARNING is in effect for this area until 12:00 AM EDT. This is a dangerous and life-threatening situation. Do not attempt to travel unless you are fleeing an area subject to flooding or under an evacuation order.” Tampaknya, daerah tempat saya tinggal terkena “cipratan” badai tropis, Ida.


Walaupun dengan faktor yang berbeda, yaitu penyakit, paham radikal, dan bencana alam, ketiga cerita ini memiliki kesamaan, yakni adanya teror yang mengancam hilangnya nyawa manusia. Orang percaya tidak terhindar dari pengaruh cerita-cerita ini, dimana secara sadar maupun tidak “memaksa” kita untuk bersikap. Bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi ada yang semakin dekat dan atau mendekatkan diri kepada Tuhan, sedangkan di sisi yang lain ada yang bertanya “Dimanakah Tuhan?”, “Apakah Tuhan benar-benar ada?”, “Saya tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan”.


Dengan kata lain, diperhadapkan dengan cerita-cerita dunia ini, ada yang menjauhkan diri dari Tuhan, atau menganggap Tuhan begitu jauh, bahkan tak sedikit yang meyakini bahwa Tuhan tidak ada.



Menghubungkan kedua cerita


Seorang tokoh reformed Yohanes Calvin memandang bahwa dunia dan seluruh bidang kehidupan di dalamnya sebagai theatrum gloriae Dei (panggung kemuliaan Allah).


Sadar maupun tidak, keterbatasan kita sebagai “semata-mata”makhluk ciptaan, membawa kita kepada kecenderungan untuk lupa bahwa kemuliaan Allah sang Pencipta selalu nyata dalam setiap cerita yang terjadi di dunia ini. Untuk itu, kepada saya dan mereka yang “terjebak” pada kedua sisi mata uang ini, tulisan ini ditujukan.



Cerita yang sebenarnya


Dalam bukunya, The Unfolding Mystery: Discovering Christ in the Old Testament, Edmund Clowney mengatakan bahwa “Wahyu Allah dapat membangun satu cerita yang akhirnya sudah diantisipasi sedari awal, dimana prinsip panduannya bukanlah kemungkinan ataupun takdir, melainkan janji”.


Sebagai ciptaan, kita tidak memiliki pengetahuan komprehensif yang sama dengan sang Pencipta yang mengetahui segala sesuatu dari awal hingga akhir. Dalam ketidakpastian dan ketidaktahuan kita, satu hal yang pasti untuk diketahui adalah wahyu Allah yang diberikan kepada kita adalah janji “ya” dan “Amin”, yaitu di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita (2 Korintus 1:20).


Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa tidak ada masa sulit atau penderitaan yang akan menimpa kita di dunia ini. Tapi apa? Ada janji damai sejahtera dan penghiburan di dalam Yesus, bahwa Dia adalah Imanuel: yang artinya, Allah beserta kita. Tidak peduli apa yang menimpa kita, atau apa yang kita hadapi, Allah beserta kita (Matius 1:23). Yesus berkata “kuatkanlah hatimu” ketika kita menderita penganiayaan di dalam dunia, karena Dia sendiri telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).


Bahkan jika kita masih tidak merasakan kehadiran Tuhan, ingatlah bahwa sebenarnya Dia ada selalu disampingmu, dan Dia berkata kepadamu “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).



Inti dan akhir cerita


Tidak ada yang tidak diketahui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, karena Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir. Percayalah baik cerita ancaman penyakit, paham radikal, ataupun bencana alam, sudah diantisipasi sejak awal, yang pusatnya ada pada cerita Injil, yakni karya pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib.

Jadi, mati ato hidop, nyanda ada yang mo beking torang tapisa deng Tuhan Allah pe sayang yang torang so dapa lantaran Kristus Yesus tu torang pe Tuhan. Dia da tunggu torang samua di Yerusalem baru for mo tinggal sama-sama. “Dia mo seka samua aer mata dari dong (baca: torang) pe mata. So nyanda ada lei yang mo mati, nyanda ada lei yang mo rasa sedi ato mo manangis, kong so nyanda ada lei yang mo saki. Soalnya samua yang lama itu so nyanda ada lei” (Wahyu 21:4).

Sebagai arak-arakan orang percaya kepada sang Kepala Gereja, mari torang terus berharap dan menyembah Dia, sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Soli Deo Gloria.


 

Editor's note: This content was originally published on Dodoku GMIM September 18, 2021

24 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page